Jatuh Cinta Pada Ketam

Chitchat.my.id- Aloha, apa kabar semua. Selamat datang di jam tayangan ngerumpi nyeleneh di blog ChitChat, Ngerumpi yuk! Nah, pembahasan kali ini mengenai kisah pertualangan biang rumpi  ketika liburan ke Pulau Ketam yang berada di Malaysia. Semoga teman ngerumpi menyukai kisah perjalanan ini ya.

Tujuan liburanku, saat berada di Klang adalah mengunjungi Pulau Ketam. Untuk mencapai Pulau Ketam dari hotel tempat aku menginap di Klang membutuhkan waktu sekitar dua puluh menit. Begitu tiba di Pelabuhan Klang, kala itu tidak terlihat ramai. Hanya beberapa orang turis lokal yang memiliki tujuan sama yakni Pulau Ketam. Pulau yang terkenal sebagai Pulau Perikanan. Hal itu bukan tanpa alasan, Pulau Ketam memang terkenal sebagai pusat penghasil  seafood.

 

Ada tiga pilihan kapal feri yang akan mengantar wisatawan yang hendak mengunjungi Pulau Ketam yakni dua kapal feri kecil dan satu kapal feri besar. Aku memilih menggunakan kapal feri besar. Karena kapal feri besar, aku bisa duduk diatas untuk melihat suasana perjalanan ke Pulau Ketam. Jarak tempuh antara Pelabuhan Klang ke Pulau Ketam hanya sekitar 45 menit saja. Pemandangan mangrove terlihat hampir di dua sisi. Kapal berhenti sejenak di salah satu pelabuhan yakni pelabuhan sungai lima untuk menurunkan dan menaikan penumpang. Setelah itu, pelabuhan terakhir, pelabuhan Ketam.

 

Jangan membayangkan lokasi pelabuhan yang besar. Pelabuhan Pulau Ketam sangat kecil dan penumpang harus bersabar untuk turun dari kapal feri. Sambil menunggu antrian untuk turun dan mengambil barang. Aku melihat banyak sekali sepeda tertata rapi di pelabuhan Klang. Begitu keluar dari pelabuhan aku melihat tulisan warna-warni yang tertulis “KETAM.” Beberapa turis lokal berhenti sejenak dan melihat ke bawah. Kebetulan air laut sedang surut. Karena penasaran apa yang mereka lihat, aku pun ikut-ikutan melihat kebawah. Ternyata ada banyak sekali, diperkiran ratusan kepiting kecil yang keluar dari lumpur. Tidak heran, pulau ini disebut Pulau Ketam yang berarti Pulau Kepiting.

 

Disisi kiri tempat aku berjalan, aku melihat restauran sederhana yang menyediakan makanan dan minuman segar. Cuaca di Pulau Ketam cukup terik, mayoritas rumah yang ada di Pulau Ketam adalah rumah panggung. Hal itu untuk menghindari kondisi rumah banjir ketika air laut pasang. Hotel tempat aku menginap tidak berada jauh dari pelabuhan. Menitip barang di resepsionis terlebih dahulu, karena belum waktunya check in. Aku pun menelusuri Pulau Ketam yang kabarnya bisa ditulusuri dalam sehari.

 

Suasana terik dan sesekali aku harus berhenti untuk memberikan jalan bagi penduduk lokal yang berkendara menggunakan sepeda. Jadi, sepeda yang terparkir di Pelabuhan Ketam adalah transportasi Penduduk Ketam yang pemiliknya sedang ke Klang untuk melakukan aktivitas, termasuk sekolah dan sebagainya. Ada dua pilihan untuk menelusuri Pulau Ketam yakni jalan kaki atau menyewa sepeda. Harga sewa sepada sangat terjangkau dan bahkan ada dua pilihan sepeda biasa dan sepeda listrik. Aku lebih memilih jalan kaki, karena aku tidak begitu mahir menggunakan sepeda di jalan yang sempit.

 

Beberapa dinding yang aku temui di Pulau Ketam sangat menarik. Hal itu karena kekreatifan dari Penduduk Ketam. Mereka membuat lukisan dinding dengan berbagai design yang menarik. Sehingga tergelitik untuk turut mengambil foto diantara beberapa pilihan design lukisan dinding. Tidak hanya itus aja, limbah plastik juga dikreasikan menjadi pot bunga dan juga hiasan tanaman. Sungguh menarik, begitu juga dengan burung gagak yang sangat banyak berterbangan di Pulau Ketam. Awal mulanya aku ketakutan, tetapi gagak-gagak yang ada disana tampak tidak takut dengan manusia. Mereka juga tidak mengganggu. Gagak hanya menanti penduduk setempat membuang sampahnya untuk mereka makan.

 

Tidak jauh dari jalan utama, ada beberapa kuil atau wihara. Pasalnya, mayoritas penduduk Pulau Ketam memang orang Cina. Sehingga tidak heran jika terdapat beberapa kuil yang bentuknya mencerminkan Ketam. Bahkan kuil tersebut sudah lama berdiri seperti Kuil Nang Thiam Keng dan  kuil Hock Leng Keng.

 

Tidak lengkap liburan ke Pulau Ketam tanpa memandang pemandangan sunset. Melihat matahari tengelam lokasi yang tepat berada di dekat pelabuhan Ketam. Disana, kita disuguhkan pemadangan matahari terbenam yang sempurna. Ditambah dengan riak air laut yang sudah mulai pasang. Sungguh sensasi yang menyenangkan. Ketika sinar matahari berwarna keoranye menembus pilar-pilar yang menjadi bagian dari dekorasi yang ada di dekat Pelabuhan Ketam.

 

Tentunya aroma wangi masakan menjadi sensasi utama ketika liburan di Pulau Ketam. Ada banyak makanan lokal seperti ice cream lokal dari rasa buah-buahan dan bahkan ada rasa ketamnya juga. Makanan olahan ikan kering juga bisa dijadikan oleh-oleh yang tepat ketika pulang ke rumah. Namun, ketika berada di Pulau Ketam mencoba sensasi masakan seafood yang segar sangat direkomendasikan sekali. Karena, orang Malaysia pun ke Pulau Ketam hanya untuk menikmati cita rasa makan seafood segar yang diolah menjadi kuliner khas Malaysia ikan asam pedas maupun kepiting merah lada hitam. So yummy di mulut dan membuat perut kenyang.

 

Suasana malam di Pulau Ketam sangat tenang di malam hari, tidak ada kebisingan. Satu-satunya sumber suara ketika menelusuri Pulau Ketam yakni suara karoke yang berada di balai pertemuan Pulau Ketam. Beberapa orang baik tua dan muda duduk bersantai sambil bernyanyi secara bergantian. Sedangkan beberapa akau juga buka untuk melayani pembeli baik penduduk lokal maupun turis yang menyatu dengan penduduk Pulau Ketam. Apalagi, warga yang ramah seakan-akan turis berasa di rumah sendiri. Hal inilah yang jarang ditemukan ketika liburan. Suasana kekeluargaan dan santai tanpa hiruk pikuk kehidupan perkotaan. Hal itu yang membuat aku jatuh cinta pada Pulau Ketam.  


Salam Biang Rumpi




Jangan lupa berkunjung juga ke  kitabahagia Story citra, petunjukhidup, asiabutterflytraveler dan jejakcantik 
temukan artikel menarik lainnya




CONVERSATION

0 comments:

Post a comment

Hi Teman Rumpi, terima kasih sudah main ke blog chitchat, ada baiknya berbagi pendapat tanpa meninggalkan spam ya. Kita sama-sama saling menghargai rumah maya kita. Salam, thanks telah meninggalkan biang rumpi manis di sini. cheers @citrapandiangan